Wednesday, 26 October 2016

KCS #5 ~ Ratu Semut

“Maksudnya?” Tanya gue bingung.

“Jadi, itu cewek udah pulang, dia shift siang doang hari ini. Nah, besok siang tinggal lu minta deh nomernya!” Gerry menjelaskan dengan tenang.

“Eh bentar-bentar,” bantah gue merasa ada yang aneh. “Kok gue yang minta, kan lu sendiri tadi yang bilang kalo lu yang minta nomernya?”

“Untuk malam ini sih iya, tapi kalo untuk besok kayaknya mental gue udah balik lagi ke mode biasanya, hahahaha,” terang Gerry sambil melangkah balik kekosan.

“Eh, kampret!” teriak gue sambil menyusul Gerry. “Gue mana berani!”

“Elu biji jambu monyet, lu pikir gue tadi berani? Gue juga takut sapi, nih tangan gue masih gemeteran!” Gerry memperlihatkan kedua tangannya yang gemeteran dan muka yang baru ketara syoknya.

Melihat itu gue jadi berpikir, Gerry memang udah terlalu jauh melakukan ini untuk gue, dan besok gue juga harus nekat, demi mengubah perdikat jomblo yang gue emban dan demi melupakan sosok cewek misterius waktu di bus yang sepersekian detik terus muncul di pikiran gue. Hal lainnya lagi, karena gue memang udah jatuh cinta.

Malam yang sama absurdnya ketika gue di putusin X cewek gue Sari di hari ke tiga kita LDR-an, pikiran gue gak sejalan dengan mata yang pengin terpejam. Ketika Gerry sudah asik memulai hidupnya di dunia mimpi, pikiran gue justru seperti roda yang terus-terusan berputar. Gue jadi inget cewek-cewek yang udah gue kenal, gak satupun dari mereka yang murni kenalan langsung sama gue, pasti memiliki prantara yang memperkenalkan mereka ke gue, termasuk mantan-mantan gue. Cowok cemen kayak gue butuh banyak refrensi untuk menghadapi hal-hal semacam kenalan, seperti malam ini, gue mencari petunjuk di internet dengan key word cara kenalan dengan cewek yang baik agar direspon, yang muncul iklan racun tikus, gue sesak nafas dan kejang-kejang. Lalu, gue mecoba membuat tiga pilihan kata untuk memulai percakapan besok: 1) gue akan bilang hmm, boleh kenalan gak? Kalo gak, gue bunuh lu! 2) Atau gue akan masuk ke supermarket itu dengan menutup wajah gue seperti perampok bank, dan teriak kenalan woiii kenalan woii! 3) Atau gue cukup berdiri dihapannya terus berbicara lewat batin hai, kenalan yuk. Dari ketiga pilihan ini, nomer satu lebih masuk akal menurut gue, tapi problemnya adalah gue berani atau enggak.

Terkadang gue iri dengan cara semut berkomunikasi, ketika mereka saling mengadu kepalanya, mereka sudah tahu harus ngapain. Seperti barisan semut yang rapi, berjalan menuju cangkir kopi gue saat menulis bagian ini, kita semua tahu bahwa satu koloni semut bisa mencapai angka ratusan hingga ribuan, satu koloni ini dipimpin oleh satu semut yang berjalan paling depan. Selain itu semut juga mampu mengangkat beban kurang lebih dua puluh kali lipat dari badannya sendiri. Sangat berbeda dengan gue yang gak bisa memimpin isi hati dan gak sanggup mengangkat muka gue sendiri ketika berhadapan dengan wanita. Mencoba mengakhiri malam, gue menutup mata dengan penuh keraguan untuk membukanya kembali besok pagi.

Malam ini dewi fortuna ternyata prihatin terhadap kegelisahan gue, dia memberikan gue mimpi yang indah. Di dalam mimpi itu, gue berada di sebuah taman penuh bunga, dengan cahaya yang silau, gue meloncat-loncat kegirangan, entah karena apa. Lalu sesosok bidadari, putih bercahaya, amat sangat teramat cantik, dia memeluk gue dengan erat, membuat gue merasa dalam zona nyaman dan tenang. Perlahan wanita ini mendekatkan bibirnya ke bibir gue, dekat dan semakin dekat. Pelan – pelan nafasnya mulai masuk di hidung gue, dengan senang hati gue manarik nafas panjang agar semua nafas wanita ini masuk ketubuh gue. Sebanyak nafas wanita ini masuk ketubuh gue, saat itu juga jantung gue pengin copot. Baunya itu aneh banget, itu kayak  kaos kaki basah yang udah seminggu gak di cuci-cuci. Gue jadi parno, gue bener-bener pengin lepas dari keadaan ini sekarang, gue meronta-ronta, dan akhir gue terbangun dari tidur gue. Gue mulai membuka mata, dan betapa terkejutnya gue melihat mulut Gerry ternganga tepat di hadapan gue. “Aaaaaaaaaaaaaaa!” Teriak gue syok sambil melepaskan tangan Gerry yang memeluk gue.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” Teriak Gerry sambil menjauh dari gue. “Elu ngapain kampret?”

“Elu yang ngapain meluk gue?” Tanya balik gue masih syok.

“Astaga…kita ngapain semalem?” sambung Gerry sambil memeriksa celananya.

“Aduh, aduh-aduh, ancur masa depan gue Ger ancur. Itu bercap putih apaan dicelana lu?” Tanya gue panik menunjuk arah celana Gerry.

“Mana kampret? Ini?” Tanya Gerry sambil menunjuk arah yang gue makasud.

“Iyee, itu apaan?”  Tanya gue lagi mulai stress.

“Oh, ini bekas ingus gue tadi malem. Tenang, kayaknya kita aman, masih layak buat cewek.”

“Eh iya, ngomong-ngomong cewek, sekarang jam berapa?” Gue dan Gerry saling bertatapan, mengerti suatu hal, seketika keadaan bertambah gaduh dan panik, buru-buru gue menuju kamar mandi untuk menampankan diri, gue benar-benar sudah siap untuk melepaskan kutukan jomblo hari ini.

Layaknya manusia normal, gue mencoba menata wajah gue yang sudah lama rusak ini didepan kaca, ya walaupun hanya satu persen yang masih bisa diperbaikin. Lalu Gerry keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggang, dia mulai membuka mulutnya, “ntar gue nunggu diluar aja ya,” pintanya.

“Yah jangan dong, gue harus ngapain ntar disana?”  Tanya gue panik.

“Beli kondom. Ya kenalanlah,” jawab Gerry sambil memilih baju didalam lemari.

Gue hanya diam, meneruskan sisiran gue yang gak searah. “Lu ngapain sih kampret?” Tanya Gerry melihat tingkah gue.

“Gue bingung nih, ini arah rambut gue kemana ya?”

“Ya elah itu doing.” Gerry mendekati gue, dan mengacak-acak rambut gue. “Nah gini lebih abstrak, kayak hidup lo,” sambungnya.

“Oh, gitu ya?” Jawab gue terangguk-angguk.

“Mata agak sayu dong, badan tegap!”

“Gini?” Gue memperagakan instruksi Gerry.

“Nah pas, ntar kenalanan suara lu agak ngebass dikit biar kece”

“Siap.” Jawab gue yakin.

Mulailah langkah gue dan Gerry meninggalkan kosan, perasaan yakin dan cemas campur aduk dalam tubuh gue. Semua kemungkinan, baik dan buruknya mulai muncul dibenak gue sekarang, tapi sedikit serpihan keyakinan dalam hati gue membuat langkah gue terus maju. Lalu, tepat didepan supermarket tersebut Gerry menghentikan langkah dan membuka mulutnya. “Gue tunggu disini.”

“Yah yah yah, jangan dong!” Rengekkan gue membujuk Gerry.

Gerry memegang bahu gue, “Sob, dari sini kejantanan lu akan di pertaruhkan.”

Gue menganggukkan kepala dan memegang bahu Gerry. Gue mengintip kearah supermarket dan melihat cewek kasir yang gue tuju sedang asik meladenai pelanggan. Perlahan gue melangkahkan kaki kearah supermarket tersebut. Lalu, langkah gue kembali terhenti dan pandangan gue berbalik kearah Gerry. “Sekarang nih?” Tanya gue.

“Tahun depan, ya sekaranglah bego, huss huss huss!”

Mendengar itu, tanpa basa-basi gue masuk kedalam supermarket. Lalu, setibanya didalam supermarket, gue memutari rak demi rak sambil memikirkan kalimat seperti apa yang harus gue lontarkan. Gue memperhatikan sekeliling gue, pelanggan yang lain sedang sibuk memilih belanjaannya, bersamaan dengan itu juga belum terlihat pelanggan yang berada dihadapan kasir. Gue kembali melihat kearah Gerry yang sudah memberikan kode dengan bibirnya, isyarat kalau sekarang adalah saat yang tepat. Tanpa ragu, gue melangkah ringan menuju gasir. Dengan mata kantuk, rambut acak-acak, gue membuka mulut dengan nada sedikit ngebass. “Mmm, mbak, saya mau beli permen karet ini,” mulai gue sambil meletak satu kotak berwarna pink yang gue ambil dari rak depan kasir.

Cewek kasir ini tersenyum. “Kenapa senyum mbak?” Tanya gue heran.

“Ini Kondom mas,” jawab cewek kasir cengengesan.

Gleekkk… Gue menelan ludah. “Maksud saya yang ini mbak,” sambung gue dengan nada lirih memberikan permen karet.

“Ini aja mas? Pulsanya gak sekalian?” Tanya cewek kasir ini merayu dengan sepasang gingsulnya.

“Ini aja mbak,” jawab gue singkat. Melihat Kasir itu mulai menghitung belanjaan gue yang gak seberapa itu, jatung gue mulai berdegub kencang, gue merasa ada hawa panas yang keluar dari tubuh gue yang memerahkan muka gue.

“3.000 Rupiah mas belanjaanya.”

Gue tambah panik, perasaan ini seperti gue sedang berada disebuah kelas, tiba-tiba ditunjuk guru untuk mengerjakan soal matematika dipapan tulis. Mencoba memperlambat durasi, gue memberikan selembar Rp.50.000. Lalu, gue tambah panik lagi, ketika cewek kasir ini mulai menarik satu-persatu uang kembalian dari lacinya, dan ketika dia memberikan uang kembaliannya ke gue, spontan nada lirih keluar dari mulut gue, “Yang tadi malem udah tahu mbak?”

“Hah?” Cewek ini heran.

Tangan gue mulai gemetaran dan basah, “Sa…sa…saya mau eeeee, kenalan gitu sama mbak,” sambung gue terbatah-batah.

“…..” cewek ini diam melihat kearah belakang gue.

Merasa ada yang aneh, gue juga membalikkan pandangan gue kebelakang, “Mampus gue,” sahut hati gue berasa pengin pingsan melihat antrian yang panjang dibelakang gue. Mas-mas yang berada persis dibelakang gue ini bersiul, membuang pandangannya kesana-kemari seolah-olah tidak mendengar apa yang sedang gue bicarain, dan mas-mas yang berada dibelakangnya lagi berpura-pura merapikan belanjaannya. Lalu gue lebih kaget lagi melihat ibu-ibu yang berada dibarisan paling belakang, ibu-ibu ini gue kenal persis, masih lengket banget dibenak gue, iya bener ibu ini yang waktu itu marahin gue diterminal. Tapi kali ini dia mengangkat dua tangannya dan mengacungkan kedua ibu jarinya. Tiba-tiba, “Oh mas yang temennya tadi malem kesini ya?” Samber salah satu cewek pegawai supermarket ini.

“I…iya mba,” jawab gue masih terbatah-batah.

“Cowok sekarang tukang goda semua, udah mas jangan ganggu orang lagi kerja!” Sambungnya ketus.

Gue cuma ngebatu disana, gue kembali melihat kearah cewek kasir yang gue harapkan ini, namun dia terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Lalu perlahan tangan gue mengambil uang kembalian yang berada dihadapan gue, “Terimakasih mbak,” jawab gue tersenyum sambil meninggal zona yang gue sendiri udah bingung harus ngapain lagi.

Gue berjalan keluar dengan kepala tertunduk, gue bener-bener udah lemes, seolah-olah semua energi gue sudah habis disana. Gerry langsung menyambut gue dan buru-buru mengucapkan pertanyaannya. “Gimana-gimana?” gue cuma mengangkat bahu dan bingung harus menjawab apa.

“Tapi tadi udah keren banget, gue gak nyangka lu beneran ngajakin dia kenalan,” sambung Gerry yang mulai mengerti dengan situasi gue.

“Ternyata urusan hati itu rumit Ger,” ungkap gue.

“Maksud lu?”

“Iya rumit, tulus aja nggak cukup, karena orang lain gak bisa melihat itu,” sambung gue sambil melangkah menuju kosan.

“Hahaha, lu tuh kayak bunga raflesia, susah tumbuhnya, gampang matinya.”

“Hahaha, enggak gitu juga sih, gue cuma bingung aja gitu, setiap kali gue menggunakan hati, yang bakal sakit juga hati. Berarti kalo gue gak menggunakan hati atau pikiran, gue gak akan kenapa-napa dong.”

“Logika lo sempit, sebaik-baiknya manusia, dia yang disakiti bukan menyakiti. Dan lu cowok, gak ada harganya lagi kalo udah nyakitin cewek.”

Gue hanya terdiam, hati gue bener-bener menerima apa yang baru saja Gerry katakan. Seketika gue sadar satu hal, untuk urusan hati ini tidak perlu memikirkan apakah gue akan tersakiti atau enggak, gue cukup seperti satu koloni semut yang tulus menjaga ratunya, tanpa pamrih.

Sambil gue dan Gerry membicarakan ini dalam perjalanan pulang, handphone gue bordering.


“Ya Halo,” Suara wanita yang lembut di balik telepon.

~Bersambung~
Read More

Monday, 11 July 2016

KCS#4 ~ Satu Titik Berspasi


“Ngga apa-apa ger gue kalah, gue masih pengen naik bus.” Sambung gue dengan nada tenang ditengah lalu-lalang kendaraan.

“Ah, gak terima gue!”

“Sapi, yang begadang gue, harusnya gue yang gak terima, bukan lu. Lagian gue mau gimana lagi?”

Hening.

“Ya udah, gue mau liat lokasi buat moto besok,” sambung gue lagi.

“Ah, tetep gak terima gue!”

“Ya udah, mau gimana?”

Hening.

“Ah, tetep gak--.”

“Stop! Sebelum isi kepala gue meleleh terus kececer dimana-mana,” potong gue mulai panas sambil menutup telepon. Selang beberapa detik dari itu, Gerry kembali menghubungi gue, dengan sigap gue angkat, kata-kata emosi dibenak guepun siap gue lontarkan. Tapi mulut gue kalah cepat dibandingkan Gerry.

“Eh unta, yang nelpon lu itu gue, jadi harus gue yang nutup teleponnya. Bye!”

Gue heran sambil menatap telepon yang udah dimatikan Gerry, itu aturan dari mana?

Kembali mengalihkan pandangan gue ke traffic light, gue sadar satu hal, ternyata tontonan gue waktu kecil menempa gue menjadi manusia yang super drama. Enggak sejalan dengan sinetron yang pernah gue tonton itu, Ketika pemeran laki-laki membalikkan badan, disaat bersamaan itu juga si pemeran wanita berdiri tepat dihadapannya. Lalu, lantunan musik dimulai, diiringi dengan beberapa penari yang mengelili mereka. Sebuah kejijik-an yang waktu itu gue harapkan terjadi.

Waktu kecil, gue belum mengerti sama pemberitahuan: cerita dalam film ini hanyalah fiktif belaka. Yang muncul persis sebelum filmnya dimulai. Jadi, apapun yang ditayangkan didalam sebuah film, gue telen bulat-bulat, gue anggap beneran terjadi. Misalnya film Panji yang terkenal waktu itu, film ini nyaris bikin gue loncat dari atap rumah setelah menggunakan bajunya yang bersayap. Untungnya pak Abu tetangga gue melihat gelagat gue tersebut, sehingga gue berhasil tumbuh besar walaupun sebego sekarang.

Esok harinya setelah gue selesai dengan anak-anak SMA yang ingin potonya terlihat cantik itu, gue balik ke Kelapa dua dengan setengah nyawa masih bersama gue, sedangkan yang setengahnya lagi melayang setelah kejadian kemarin. Gue baru tahu mabuknya cinta lebih-lebih dari mabuknya orang naik jet coaster, oleng. Gue gak bisa larut di zona ini, gue akhirnya menceritakan kejadian tersebut kepada Gerry, berharap mendapatkan saran yang baik dari Gerry.

“Begoo lu begoo zon zon,” ungkap Gerry yang kesal setelah mendengarkan cerita gue.

“Tapi, gue udah berusaha nyusulin dia Ger,”

“Telat banget, kesalahan lu banget if…if…if… kebanyakan mikirnya. Gue bisa pastiin, lu gak bakal ketemu lagi sama dia.” Jawab Gerry yang saat itu berasa menjadi konsultan cinta.

“Hehehe, siapa yang tahu?” jawab gue mencoba membela diri.

“Terserah lu sih, saran gue, kalo ada cewek sekitar sini yang lu taksir, mending gebet yang disini aja, lu pasti bisa ngelupain cewek yang di bus itu, percaya sama gue.” Bujuk Gerry mencoba meyakinkan gue.

Gue jadi inget pepatah tua, mati satu tumbuh seribu. Gue pikir, saran dari Gerry bisa gue coba.

“Ada sih, kasir di supermarket depan gang sini,” sambung gue dengan nada agak malu-malu.

“Serius lu?” Tanya Gerry dengan antusias.

“Serius, gue bisa tunjukin sekarang kalo lu mau liat,”

“Ayok!”

Untuk melepaskan predikat jomblo yang gue emban selama ini, akhirnya gue mengajak Gerry ke supermarket yang berada di depan gang. Sebenarnya gue juga gak tahu apakah gue benar-benar suka atau enggak sama si cewek kasir ini, yang gue tahu cewek ini sudah berhasil bikin mata gue bertahan beberapa detik melihat ke arahnya, ketika pertama kali gue ke supermarket ini untuk membeli perlengkapan mandi.

Dengan tampang seperti gue sama Gerry punya, usaha seperti ini bukan kali pertamanya terjadi. Kita sadar, dengan usaha yang keras dan tekat yang kuat, suatu hari nanti alam akan membantu kita. Mungkin udah ribuan kali kita kayak gini, saling kasih tahu seseorang yang sedang kita suka, setelah itu diam dan berlalu, membiarkan rasa yang kita miliki itu usang. Ibarat pemain bola, gue sama Gerry hanya cocok di garis pertahanan, mentok-mentoknya gelandang bertahan, usaha gue sama Gerry baru sebatas memandang wanita yang kita sukai dari kejauhan, usaha yang paling keras yang bisa kita lakukan.

Tepat didepan supermarket tersebut, langkah Gerry terhenti, dengan ekspresi super serius seakan-akan selangkah lagi kita berdua akan memasuki zona perang, Gerry memberitahu gue rencanya. “Jadi gini, kita masuk kedalem, jangan membuat gerakan yang mencurigakan sedikitpun, salah langkah sedikit, mission failed.”

“O…okeey,” jawab gue terbatah.

“Kita masuk ke supermarket, lalu membeli tisu. Terus kita gak boleh berdekatan selama didalam, lu harus memberikan kode ke gue menggunakan bibir ke arah cewek tersebut!” sambung Gerry dengan nada setengah berbisik.

“Kena--.”

“Ssssstttt,” potong Gerry sambil menutup mulut gue menggunakan tangannya. “Inget zon, salah langkah sedikit saja, mission failed,” Lanjut Gerry masih dengan notasi berbisik.

Refleks tangan gue menepis tangan Gerry yang menutup mulut gue.

“Kok jadi ribet gini sih?” Tanya gue mulai paham dengan sikon Gerry yang gak stabil. “Kita cukup masuk kedalam, terus beli beberapa makanan, udah beres, intinya lu tau orangnya yang mana.” Tambah gue.

“Gitu ya?” ungkap Gerry yang masih berpikir.

Ini seperti kebegoan yang tertular, begonya gue nular ke Gerry. Dalam situasi ini, manusia bisa berbanding terbalik dengan sifat aslinya ternyata.

Lalu gue mulai melangkahkan kaki gue masuk kedalam supermarket itu, disambut dengan salam khas supermarket ini, “Selamat datang kaka,selamat belanja.” Gue memperhatikan satu-persatu dari kasir yang menyapa gue, sangat melegakan melihat cewek yang gue ceritain ke Gerry, berada disitu, kali ini alam yang menggiring gue kesini. Gue tersenyum membalas sapaan dari mereka dengan mata yang berpusat pada satu titik, titik yang membuat seseorang mencari-cari alasan untuk berlama-lama berada pada bagian ini.

Gue kembali meneruskan langkah gue ke arah rak makanan dan memasukan beberapa diantaranya kedalam keranjang, lalu gue meneruskan ke arah perlengkapan mandi-celana dalam-perlengkapan dapur-racun nyamuk-racun tikus-racun rumput, yang sebenarnya gue hanya membeli beberapa makanan saja. Tiba-tiba Gerry menghampiri gue.

“Oooo, I know.” Mulai Gerry mengangguk-ngangguk, mengerti suatu hal.

“Apaan?” Tanya gue sambil sok cool.

“Gue udah tahu yang lu taksir, selera yang bagus,” sambung Gerry lagi, masih mengangguk-ngangguk.

“Jangan sok tau lu,” Bales gue.

“Dia kan?” arah telunjuk Gerry tepat kearah cewek yang gue ceritain.

“Tangan lu bego, tangan lu!” Gue panik karena tangan Gerry terlalu bebas menunjuk kearah cewek kasir itu. “Oke, sekarang lu udah tau. Kita bayar ini terus pulang! Tapi ngomong-ngomong, lu bisa tau dari mane?” sambung gue yang udah agak malu.

“Paling gampang itu menebak orang yang sedang jatuh cinta. Lu terlalu lama aja di area ini yang lebih terbuka untuk ngeliat dia, dari pada area yang laen.” Jelas Gerry.

Sebuah logika yang diterima diakal gue.

Bermaksud membayar belanjaan, gue berjalan menuju kasir dengan nervous yang sudah menjadi-jadi dari awal gue masuk kesini.

“Ini aja kak?” Tanya cewek kasir ramah.

“Oh iya. Lu gimana ger?” Tanya gue mencoba menambahkan durasi didepan cewek ini.

“Udah itu aja,” jawab Gerry.

“Gak sama pulsanya sekalian?” tawar cewek kasir lagi dengan tersenyum menunjukan gingsulnya.

Gleek… gue nelen ludah, tiba-tiba ruangan ber AC itu terasa panas. “Boleh mba, 5000 aja ya,” jawab gue luluh setelah melihat sepasang gingsul itu.

“Oh iya, silahkan tulis nomer hpnya disini,” cewek ini menunjukkan note untuk menuliskan nomor handphone gue. “Jadi total belanjanya 9.784 Rupiah, uangnya 10.000 ya? Mau disumbangin aja kakak kembaliannya?”

“Boleh mba,” samber gue. “16 Rupiah disumbangin, jadi mba tinggal kembaliin 200 rupiah,” gue tersenyum, menganggap ini adalah keputusan yang smart.

“Baik, ada lagi kak?”

“Udah mba, cukup. Terimakasih.”

Setelah gue merasa durasi ini sudah cukup buat nempelin wajah cewek kasir ini dibenak gue, gue berlalu pergi, kembali kekosan gue bersama Gerry. Seperti yang pernah gue bilang sebelumnya, tahap seperti ini adalah usaha terkeras bagi kami untuk mendekati cewek, problem yang begitu kompleks, udah jelek terus cemen.

Setibanya dikosan, sempat hening beberapa menit sebelum akhirnya Gerry yang terlihat melamun, sambil tiduran menatap plafon yang terdapat bekas bocor, membuka mulutnya. “Itu cewek manis banget zon,”

“Iya,” jawab gue singkat.

“Sederhana, mukanya aduuhhh, bikin teduh,”

“Iya,” jawab gue lagi.

“Kita mabuk apa sih zon?”

“Iya,”

Mendengar jawaban tersebut, Gerry langsung nyamperin gue yang duduk menghadap tembok.

“Unta lu, ternyata ngelamun, cie yang jatuh cinta,” goda Gerry.

“Geli sapi, cia cie cia cie. Gue gak jatuh cinta!” jawab gue ketus.

“Bahaha, terus aja bohongin diri sendiri.”

Jauh didalam hati gue, gue benar-benar setuju dengan Gerry, bahwa gue jatuh cinta.

Gue jadi inget wanita yang memberikan uang ke gue buat beli makan sewaktu di penyebrangan jalan dan trotoar. Karena itu gue jadi mengerti, untuk jatuh cinta, terkadang kita memang gak perlu mencari latar belakang, gak perlu alasan-alasan yang tepat untuk bertindak, ketika kita sudah melihat, kita tahu apa yang dikehendaki hati, lalu memenuhi keinginannya.

“Kita gak bisa gini terus zon,” sita Gerry.

“Maksud lo?”

“Ya, kita gak bisa gini terus, lu harus bergerak, kenalan sama dia!” seru Gerry serius.

“Udah gila kali! mana berani gue, yang ada jantung gue copot!”

“Tenang aja, gue yang minta,” jelas Gerry dengan muka yakin.

“Serius lu berani ger?” Tanya gue antusias.

“Yoi, ntar malem kita kesana!”

Mendengar itu, mata gue jadi berkaca-kaca. Rasanya, gue lagi melihat Gerry menggunakan topeng Panji dan satu set pakaiannya, lalu siap untuk terbang menumpas kejahatan. Gue jadi pengin peluk Gerry sambil gue gigit-giti mukanya, gemes.

Malam harinya gue ngekorin Gerry dengan degub jantung yang gak normal, gue paksain diri gue buat nemenin Gerry ke supermarket. Kali pertama kejadian ini terjadi dengan level yang sedikit naik dari biasanya. Lalu, setelah tiba didepan supermarket tersebut, jantung gue rasanya pengin kececer kemana-mana.

“Ger ger, bentar,” gue menahan Gerry yang berjalan tanpa ragu. “kayaknya gue diluar aja deh, gak sanggup gue serius!” sambung gue.

“Temeninlah! Yang butuhkan elu,” jawab Gerry ketus.

“Gak berani serius, gue bisa kejang-kejang kalo masuk kedalam.”

“Ah, cupu. Ya udah, tunggu disini, liat abang mu ini ha.”

Gerry berjalan dengan langkah yang ringan, kayaknya emang udah matang untuk ini. Beda dengan gue yang berjalan mondar-mandir diluar, sesekali gue menarik nafas panjang buat memberikan ruang di dada gue yang mulai sesak. Gak ada yang lebih asik dari menunggu sesuatu yang gak menimbulkan rasa bosan.


Lalu Gerry keluar dengan wajah yang tersenyum, dia memperlambat langkah dan menghampiri gue sambil mengatakan, “Tugas gue udah selesai, sisanya tergantung sama lo.”

~Bersambung~
Read More

Tuesday, 5 July 2016

KCS#3 ~ Moment Kampret Yang Paling Gue Rindukan

Sumber image : giphy.gif

Ajo juga temen satu SMA yang diberikan anugerah muka yang berbanding terbalik dibandingkan gue sama Gerry. Dengan gen Chinese yang dia punya, Ajo selalu jadi pusat perhatian cewek-cewek dimanapun dia berada, apalagi waktu salah masuk toilet. Dan ini menjadi alasan kenapa gue sama Gerry nggak pernah ngajakin Ajo ke medium lain selain warnet, karena ketika dia melewati kerumunan cewek-cewek, dengan sedikit senyuman saja, mereka yang melihat seakan-akan memuai (udah kayak rel kereta api tau nggak).

“Baahaaaaanngggg, belai adek bahaaaaaannngggg.” Desah cewek A.

“Aaaaaaaaaak, ulah cuek wae atuh aaaaakkk, rabaaaaa eneng aaaaakkk,” Ungkap cewek B sambil menggigit bibirnya.

“Maaasss, pantaattt maaaasssss,” Manusia flexible gender datang (bubar-bubar).

Gue sama Gerry cuma bisa ngekorin aja dibelakang, kepala tertunduk, kayak ajudan tapi nggak six-pack, itu cemen banget. Rasanya kayak ngeden pup, udah keringet segede biji jagung tapi pupnya nggak keluar, perih.

Gue bisa bilang, kita sama seperti tiga serangkai. Predikat ini langsung diberikan oleh kepala sekolah kepada kami, setelah melakukan upacara bendera hari senin, dengan lantang dan jelas diumumkan diatas mimbarnya menggunakan pengeras suara. Semua murid memberikan tepuk tangan dan yang paling meriah adalah penjual pempek di kantin. Otomatis nama kami tertulis dalam catatan sejarah di SMA terfavorit provinsi Bengkulu ini, yang nulis guru BP. Dengan predikat pelopor murid paling sering bolos sekolah dan gelar tiga serangkai versi badung.

Didalam game dota, mereka menjadi sosok yang berbeda. Gerry yang mampu menenangkan team, mengatur, dan membuat pola permainan, sangat cocok menjadi seorang leader. Ajo seorang pemikir yang selalu memberikan strategi yang cermat dan akurat, cocok dengan sebutan ahli strategi. Gue? gue adalah beban yang harus mereka tanggung selama bermain dota. Ibaratnya mereka ini kedua orang tua gue yang harus menghidupi, menafkahi, dan menceramahi gue dengan penuh kasih sayang, kalo nggak, gue pura-pura ngambek, ngacak-ngacakin keyboard terus nangis.

“Halo,” Mulai Gerry menyapa Ajo dibalik handphoneya.

“Sini-sini gue yang ngomong,” paksa gue sambil merebut telepon genggam Gerry.

“Oi men, udah di net belum?” Tanya gue ke Ajo.

“Oi juga kisanak, gimana kemesraan kalian beberapa hari ini?” Tanya balik Ajo.

“Sejauh ini kurang harmonis, Gerry suka nendang kalo tidur,” jawab gue cekikikan.

“Punya si Gerry suka nendang?” Tanya Ajo lagi.

“Bukaaaan, kalo yang itu nggak mungkinlah, mana berani dia sama kakak letingnya gile,” jawab gue tertawa lepas bersamaan dengan Ajo.

“GOBLOK!!! Lu pada mau maen kagak?” Celetuk Gerry ketus.


“Eh eh, die marah. HAHAHAAHAAH,” mulai gue lagi ke Ajo. “Lu udah diwarnet belom?” sambung gue.

“Gue udah login kali, nick Ges, job Knight invite buru, biar barengan,” terang Ajo.

“Okay,” jawab gue sambil menutup telepon.

Setelah kita saling menambahkan masing-masing character didalam daftar teman, kita bertemu disuatu tempat didalam game tersebut, namun sebelum petualangan ini dimulai, ritual adu bacot memang selalu jadi opening.


Via chat game…

Gerry  : Najis, hode bangsat, ngapain bikin karakter cewek.

Ajo      : Terserah gue kampret, karakter lu yang nggak jelas, cowok tapi rambut pink. Mendingan gue jelas ceweknya.

Gue     : gpp men, karakter lu cantik.

Gerry  : tetep aja hode brengsek.

Gue     : hahaha, atur-atur aja sama kalian.

Ajo      : asal lu pada mau tau, ini karakter baru abis gue jadiin bahan di wc.

Gerry  : what?

Gue     : udah gila kali, itu bukan sesuatu yang harus lu banggain sapi.

Gerry : parah wah, hahahahahah, wah parah. Wkkwwkwkwk. Men, cari cewek sono, kasian gue. udah akut lu hahahaha.

Ajo      : kalo masalah itu, gue justru kasian sama lu bedua. Wkwkwkw

Gue     : oke, lanjut berpetualang, omongan sudah tak layak di teruskan, busuk.

Ajo      : wkwkkwkwwkw

Gerry  : ckckckckckckckck.

Karena ini masa close beta test (CBT), meningkatkan level menjadi prioritas utama bagi gue dan Gerry, sedangkan Ajo lebih mengutamakan mempelajari game ini. Sesuai gelar yang gue kasih, Ajo memang ahli strategi yang bisa kami andalkan. Dia pernah bilang, “Pengetahuan adalah sumber energi untuk tubuh kita.” Semenjak itu gue sadar, manusia nggak butuh makanan sebenarnya, kita hanya butuh buku dan Koran sebagai sumber energi kehidupan, itu yang gue yakini. Sampai akhirnya, gue mengikuti moto kehidupan Ajo yang benar-benar menginspirasi, dan alhasil, semua manusia yang ketemu sama gue dipenyebarangan jalan jadi peduli sama gue, minimal mereka memberikan sekeping uang lima ratus perak.

“Aduuhhh dee, kurus sekali kamu, udah makan? Ini buat beli makan, jangan beli lem ya!” Sapa dari salah satu orang yang ketemu sama gue dipenyebrangan jalan.

Tidak terasa, dua belas jam berlalu begitu aja. Gerry dan Ajo sepakat akan melanjutkan ini lagi besok. “Cabut yuk, laper gue,” mulai Gerry sambil logout dari game.

“Gue kayaknya lanjut paket nginep aja deh ini,” jawab gue yang masih asik memainkan game.

“Seriuss luuuu?” Tanya Gerry kaget.

“Biasa aja dong, ngga pake muncrat gini juga. Ketelen bisa rusak penerus gue. Sekalian ntar tolong pesenin sate padang yang diseberang jalan, bilang aja buat meja 12!” Pinta gue.

“Owkay,” jawab Gerry sambil pergi.

Sesaat Gerry mulai melangkah, gue teringat sesuatu. “Eh, bentar Ger,” Gue narik baju Gerry.

“Ape lagi? Kalo minta bayarin gue ngga ada duit,” jawab Gerry ketus.

“Heh heh heh heee, pleaseeee!” pinta gue dengan mata berkaca-kaca. “Gue lupa bawa dompet,” sambung gue lagi.

“Alesan lu klasik kayak biasanya sapi. Ye udeh, ntar gue bayarin.”

“Sipp, ya udah sono lu balik, kosan jangan lupa dibersihin!” Jawab gue yang udah kembali kedunia game, dan menolak melihat ekspresi dari Gerry.

Yaps, gue nginep diwarnet buat ngelanjutin lagi levelingnya. Bagi anak warnet ini bukan lagi hal yang tabu, ini hanya hal biasa yang bisa dilakukan oleh player manapun, nggak butuh keahlian khusus. Apalagi dengan event game yang berhadiahkan sepeda motor, nginep semalam, masih dalam kategori wajar. Dan gue adalah orang yang paling berharap dengan hadiah tersebut dibandingkan sama Gerry dan Ajo, gue udah capek kadang harus berdiri didalam bus dari pasar rebo sampai tambun, belum lagi pengamennya kadang suka malakin. Gue tuh cowok melankolis, hati gue sensitif, gue nggak bisa dikasarin. Pergi ke acara perpisahan SMP adik gue yang cewek aja, gue yang nangis, adik gue biasa aja, malah kejadiannya jadi gini.

“Nih bang tisunya. ya udahh, abang yang sabar ya,” Ungkap adik gue, sambil mengelus-ngelus rambut gue, dilanjutkan dengan memeluk gue yang udah nangis tersedu-sedu sambil teriak dalam hati, “Mengaaaapaaaaaaaa…paaaa…paaa…paa?”

Anyway, nginep satu hari ternyata belum membuat hati gue tenang. Gue sadar, diluaran sana juga pasti banyak yang mengincar hadiah ini. Gue putusin untuk tidak tidur selama event game ini berjalan, gue nggak mandi, gue nggak gosok gigi, nggak ketemu matahari. Melihat gue yang hampir gila itu, Gerry punya inisiatif sendiri dengan membawakan gue bubur ayam pagi-pagi, membawa kopi dan bermacam-macam makanan yang membuat gue terharu sama Gerry.

Sampai pada malam hari terakhir, kira-kira kurang dari dua jam lagi event ini akan ditutup, tiba-tiba tulang gue ngilu, tangan gue gemetar. Gue mencoba mengepal, tapi nggak kuat. Akhirnya gue paksain berdiri, dan jeeeng jeenggg, dunia seketika berputar. Kepala gue pusing banget, ada rasa mual pengin muntah. “Gerry kemana lagi?” Tanya gue dalam hati. Gue berusaha membuat ekspresi yang normal, dan mulai melangkah menuju toilet. Setibanya disana, gue langsung muntah-muntah, terlihat juga urat-urat tangan gue menonjol dibalik ari. “Aduh emak, abang rindu emak,” sahut hati gue.

Selang beberapa menit, akhirnya gue sudah kuat lagi untuk berjalan. Gue kembali lagi ke meja gue yang saat itu sudah terlihat Gerry dengan wejangannya seperti biasa, dia duduk dikomputer sebelah gue.

“Eh ini dia orangnya, nih gue bawa makanan buat lu. Udah level berapa?” Mulai Gerry.

“Masih 29 sih, satu level lagi max nih, tapi gue belum ketemu sama level yang sama sama gue.”

“Lu ngomong apaan sih? kagak jelas amat.”Ungkap Gerry sambil melihat kearah gue. “Buset, muke lu pucet amat. Lu oke coy? Udah kayak orang nyabu lu serius.” Sambung Gerry.

“Ngehe lu, ngga apa-apa gue, masuk angin doang.” Jawab gue sambil melahap wejangan dari Gerry tadi. “Eh ger, e s k in ghae.”

“Argghhhh, selesein dulu ngunyahnya bangke.” Potong Gerry.

Gleeek, gue menelan makanan yang udah halus gue kunyah. “Oke, gini ger, besok itu pengumuman ini event, nah gue yakin nama gue pasti muncul disalah satu hadiah eventnya.”

“Terus? Lu mau pamer?”

“Eh, tahu formalin, dengerin dulu makanya!” jawab gue ketus. “Besok gue ada job motoin orang di Bekasi, nah lu tolong liatin pengumuman pemenangnya!” Pinta gue.

“Oh, anak-anak alay itu?” Tanya Gerry lagi.

“Gue malah bersyukur ada orang alay dibumi ini, mereka membawa rejeki gue tau.”

“Hehehe, iye bang, sorry bang, ampun bang, jangan ngambek bang.”

“Berhubung eventnya sudah seleseai, gue mau balik dulu, udah 3 hari ngga boker, ngga kebayang gue ngeden pupnya.” Dengan wajah penuh kemenangan gue mengatakan itu ke Gerry yang masih makan.

“……” Gerry cuma mandangin gue, kunyahannya terhenti. Mengerti dengan sikon ini, gue langsung buru-buru balik.

Lalu, dihari berikutnya gue udah siap-siap untuk berangkat ke Bekasi. Semua peralatan kamera dan beberapa pakaian ganti sudah masuk dalam satu ransel. Dari tahun 2013 gue memang lagi asik-asiknya sama photography. Untuk saat itu, ini adalah satu-satunya sambilan gue yang menghasilkan.

“Kalo mau ikut sih ayok Ger, ntar cari warnet aja disana buat liat hasil evetnya,” Mulai gue sambil merapikan rambut didepan kaca.

“Ngga bisa gue, ntar mau ketempat paman, katanya di Depok tapi belum dikasih tau daerah mananya,” Jelas Gerry.

“Ya udah, gue berangkat kalo gitu. Jangan lupa pengumumannya, dapet motor gue udah nggak perlu cari bus lagi kalo ada job ginian hehehe,”

“Iyee.”

Setibanya gue dipasar rebo, duduk jongkok ditrotoar, gue celingak-celinguk nyariin bus jurusan Rambutan – Tambun (Via Tol), kalo nggak salah merknya gitu. Tiba-tiba seorang wanita muda berhenti persis dihadapan gue. Gue menaikan view gue, wanita ini tersenyum, dan gue dengan senang hati membalas senyuman tersebut. Perlahan tangannya mulai bergerak, seakan ingin berjabatan. Tentuya, gue juga harus menyambut tangan tersebut.

“Ini deeee, mungkin bisa bantu kamu buat beli makan, jangan dibeliin lem ya!” Sembari berlalu pergi, wanita ini memberikan uang lima ribu rupiah ke gue.

“Hah?” Gue kaget, “Iiih bener, inikan mba-mba yang dijembatan penyebrangan itu” bisik hati gue.

“TAMBUN, TAMBUN, TAMBUN, VIA TOL, TAMBUN, TAMBUN.” Teriak Kondektur bus.

Bergegas gue mengangkat jari telunjuk, kode kalau gue mau naik. Lalu, setelah masuk didalam bus, hela nafas lega gue keluar karena mendapatkan dua bangku yang masih kosong, gue langsung duduk paling pinggir menghadap arah jendela kaca, dan meletakkan tas dibangku sebelah gue. Gue suka aja kalau dalam perjalanan melihat arah luar, banyak kejadian yang bisa gue rekam dalam benak gue. Misalnya, orang lagi ngupil didalam mobil, orang lagi ngedumel sendiri ketika macet, orang lagi ribut sama pasangannya.

Ketika mobil mulai berjalanan. “Permisi mas, tasnya ya?” Suara ramah menyapa gue.

Ketika gue balik badan, dan melihat sosok yang menyapa gue ini, gue syok, panik mampus. “Eh, I...i…iya mba,” gue langsung memindahkan tas gue kearah selangkangan. Lalu, gue kembali menghadap jendela sambil ngedumel dalam hati, “Jangan liat, jangan liat, jangan liat kesanaaaaaa mata goblok.” Gue nggak bisa nahan diri, mata gue tetap aja diam-diam melirik kearah cewek yang ada disebelah gue. “Gilaaaa cantikkkk bangeeettt,” hati gue berasa kayak lagi ada lawan bicara, dan sekarang mereka lagi ngobrolin cewek disamping gue ini. “Gilee cuy, putih mulus, seger gini, barang ori susah cari,rambut lurus sebahu, dikoncet lagi emmmm,” erang gue dalam hati.

Sekarang, cewek cantik menggunakan sweater biru laut yang menyelimuti baju kaos putihnya lagi duduk persis disebalah gue. Entah perang dunia keberapa, hati gue sekarang kayak dua orang yang sedang adu bacot.

“Kapan lagi cuy, kenalan udah kenalan,” Hati sisi A.

“Ntar lagi, gue ngumpulin energi dulu,” Hati sisi B.

“Kapan lagi? Keburu nyampe,” Hati sisi A.

“Ntar dikira modusin gimana?” Hati sisi B.

Terus seperti itu, sampai akhirnya bahu gue dicuil, dengan semangat membara gue menoleh kesisi kanan gue tempat cewek cantik ini berada.

“Ongkos mas!” Pinta kondektur.

“Oh iya, ini. Makasih ya (udah ngerusak suasanan hati gue).”

Lalu, ketika perjalanan memasuki TOL, beeggg…pundak sebelah kanan gue tiba-tiba berat. Pelan-pelan mata gue melirik kesisi kanan, dan bener banget cewek cantik ini ketiduran dibahu gue. Gue cuma bisa ngebatu aja, gleeeek…gue menelean ludah, tapi rasanya nggak lewat tenggorokan. Ini moment kampret yang bikin manusia jadi super bego, gue bingung harus ngapain. Pas gue lagi sibuk nyariin jawabannya, tiba-tiba tangan cewek ini merangkul lengan kanan gue, berasa guling. Gue tambah syookk, lengan gue mepet di boingnya, otak gue tambah error, nggak jernih, tambah nggak bisa mikir. Gue beraniin mata gue buat natap wajah cewek cantik ini, seketika hati gue meleleh kayak es dibawah matahari, wajahnya terlihat nyaman banget, tenang dan penuh coretan kisah kehidupan. “Lu pasti capek banget ya, sampai-sampai lu ngiler tidur ditempat yang nggak nyaman, tulang berjalan ini nggak punya sisi empuknya,” Hati gue berkata-kata, tertegun memandang wajahnya.

Melihat wajahnya gue jadi bisa mikir, cowok sejati pasti tahu harus bagaiamana menyikapi ini semua. Sudah menjadi kodrat laki-laki untuk melindungi wanita. “Mmm…baiklah, gue akan pura-pura tidur agar wajah nyaman ini terus berlanjut, gue memang cowok sejati,” ungkap ke begoan hati gue. Akhirnya kepala gue berhasil mepet dikepalanya, semerbak wangi wanita yang udah jauh dari kehidupan gue, sekarang menusuk-nusuk dihidung, membuat gue tambah meleleh lagi. Dan ini terlihat seperti, kita adalah sepasang kekasih yang sedang beristirahat dari perjalanan panjang.

Semua keindahan berjalan begitu baik, sampai pada akhirnya, suara dari klatson mobil membuat kepala cewek ini sedikit bergerak, “Mampus gue, dia bangun,”kata hati gue. Jatung gue berdegub kencang, gue takut dia akan teriak atau semacamnya, namun gue beraniin meraih tangan kirinya yang masih merangkul lengan gue, dan menggenggam erat tangannya. Kepalanya kembali bergerak, dengan posisi yang masih menempel dibahu dan kepala gue, gue dapat merasakan kalau sekarang dia sedang memandang wajah gue. Gue mencoba untuk memberikan sedikit saja peluang pada retina gue ini untuk menyaksikan apa yang terjadi, beruntung memang tak berlawan, sedikit celah membuat retina gue menyaksikan senyuman kecil pada bibir tipis ini, dan wanita ini kembali pada posisi ternyamannya.

Entah apa yang terjadi sebenarnya, bus ini berhenti bergerak, teeeettt, teeettt, suara klatson yang tidak ada ujungnya, tapi gue masih tetap menolak membuka mata. Dan tubuh cewek ini kembali lagi bergerak, dan menempelkan sesuatu ditelinga kanan gue. Ya gue ngerti, ini adalah headset, tapi hanya disisi kanan telinga gue, gue berasumsi bawah sisi satunya lagi berada ditelinga kiri cewek ini, mata gue terlalu takut menyaksikan kebenarannya. Yang membuat gue tertarik adalah, cewek ini memutarkan music instrumental alam.

“Ternyata, kau juga menggunakan analogi untuk mengungkap sesuatu ya,” kata hati gue yang mulai mengerti siapa wanita ini.

Dua jam berlalu, gue benar-benar ketiduran waktu itu. Tak terdengar lagi suara angin menghembus pohon yang rindang, tak terdengar lagi suara ombak yang memecah ditepian.

“Mas, bangun, sudah di Tambun,” suara bisik bergeming ditelinga, membuat tidur gue pangling. Tapi wangi yang menusuk hidung berhasil membangunkan gue. Gue kaget, gue melihat bangku disebelah gue kosong, “Hah? Mimpikah?” Tanya gue dalam hati. “Ah sudahlah, khayalan gue terlalu tinggi,” sambungnya. Lalu, sambil membereskan barang dan bersiap untuk turun, gue melihat ke arah jendela kaca. “Hah?” gue kaget karena cewek cantik tadi berdiri ditrotoar, memandang kearah gue, dengan kepala yang sedikit miring kekanan dan tersenyum lebar, dia melambaikan tangannya ke gue bersamaan dengan mobil yang kembali berjalan. Gue hanya bisa ngebatu.

“Gue harus ngapain sekarang, please otak jangan blank, jangan blank, mikir, mikir.” Hati gue jadi menggebu-gebu.

Berkisaran jarak 50 meter mobil kembali berhenti karena aturan traffic light. Gue bergegas turun, “Gue harus kejar, itu lambaian isyrat, gue harus kejar,” ronta hati ketika gue berlari kembali kearah cewek tadi. Sesampainya disana dengan nafas yang tersengal, gue memperhatikan sekeliling gue, nggak ada yang menggunakan sweater warna biru. Gue berjalan kesana-kemari, tetap aja gue nggak ketemu sama dia. Tiba-tiba suara nada dering panggilan masuk, membuat pecah suasana.

“Jang, udah keluar ini hasil eventnya?” mulai Gerry dibalik telepon tersebut.

“Ohh, terus gimana? Gue dapet apa?” Tanya gue dengan nafas cepat.

“Nggak ada satu hadiahpun buat lu, gue bilang juga apa, event kayak gini sering modus aja,”

Gue menunduk dan terdiam, lalu gue membalik badan. “Fyuuh,” hela nafas gue dengan bibir tersenyum menghadap ke traffic light.

“Ngga apa-apa ger gue kalah, gue masih pengen naik bus.”

~Bersambung~

Out Of Topic:
Selamat lebaran untuk umat muslim
minal aidin wal faizin
mohon maaf lahir dan batin
untuk intraksi lebih personal teman-teman bisa mention ke twitter
HerdizonD
Read More