Monday, 11 July 2016

KCS#4 ~ Satu Titik Berspasi


“Ngga apa-apa ger gue kalah, gue masih pengen naik bus.” Sambung gue dengan nada tenang ditengah lalu-lalang kendaraan.

“Ah, gak terima gue!”

“Sapi, yang begadang gue, harusnya gue yang gak terima, bukan lu. Lagian gue mau gimana lagi?”

Hening.

“Ya udah, gue mau liat lokasi buat moto besok,” sambung gue lagi.

“Ah, tetep gak terima gue!”

“Ya udah, mau gimana?”

Hening.

“Ah, tetep gak--.”

“Stop! Sebelum isi kepala gue meleleh terus kececer dimana-mana,” potong gue mulai panas sambil menutup telepon. Selang beberapa detik dari itu, Gerry kembali menghubungi gue, dengan sigap gue angkat, kata-kata emosi dibenak guepun siap gue lontarkan. Tapi mulut gue kalah cepat dibandingkan Gerry.

“Eh unta, yang nelpon lu itu gue, jadi harus gue yang nutup teleponnya. Bye!”

Gue heran sambil menatap telepon yang udah dimatikan Gerry, itu aturan dari mana?

Kembali mengalihkan pandangan gue ke traffic light, gue sadar satu hal, ternyata tontonan gue waktu kecil menempa gue menjadi manusia yang super drama. Enggak sejalan dengan sinetron yang pernah gue tonton itu, Ketika pemeran laki-laki membalikkan badan, disaat bersamaan itu juga si pemeran wanita berdiri tepat dihadapannya. Lalu, lantunan musik dimulai, diiringi dengan beberapa penari yang mengelili mereka. Sebuah kejijik-an yang waktu itu gue harapkan terjadi.

Waktu kecil, gue belum mengerti sama pemberitahuan: cerita dalam film ini hanyalah fiktif belaka. Yang muncul persis sebelum filmnya dimulai. Jadi, apapun yang ditayangkan didalam sebuah film, gue telen bulat-bulat, gue anggap beneran terjadi. Misalnya film Panji yang terkenal waktu itu, film ini nyaris bikin gue loncat dari atap rumah setelah menggunakan bajunya yang bersayap. Untungnya pak Abu tetangga gue melihat gelagat gue tersebut, sehingga gue berhasil tumbuh besar walaupun sebego sekarang.

Esok harinya setelah gue selesai dengan anak-anak SMA yang ingin potonya terlihat cantik itu, gue balik ke Kelapa dua dengan setengah nyawa masih bersama gue, sedangkan yang setengahnya lagi melayang setelah kejadian kemarin. Gue baru tahu mabuknya cinta lebih-lebih dari mabuknya orang naik jet coaster, oleng. Gue gak bisa larut di zona ini, gue akhirnya menceritakan kejadian tersebut kepada Gerry, berharap mendapatkan saran yang baik dari Gerry.

“Begoo lu begoo zon zon,” ungkap Gerry yang kesal setelah mendengarkan cerita gue.

“Tapi, gue udah berusaha nyusulin dia Ger,”

“Telat banget, kesalahan lu banget if…if…if… kebanyakan mikirnya. Gue bisa pastiin, lu gak bakal ketemu lagi sama dia.” Jawab Gerry yang saat itu berasa menjadi konsultan cinta.

“Hehehe, siapa yang tahu?” jawab gue mencoba membela diri.

“Terserah lu sih, saran gue, kalo ada cewek sekitar sini yang lu taksir, mending gebet yang disini aja, lu pasti bisa ngelupain cewek yang di bus itu, percaya sama gue.” Bujuk Gerry mencoba meyakinkan gue.

Gue jadi inget pepatah tua, mati satu tumbuh seribu. Gue pikir, saran dari Gerry bisa gue coba.

“Ada sih, kasir di supermarket depan gang sini,” sambung gue dengan nada agak malu-malu.

“Serius lu?” Tanya Gerry dengan antusias.

“Serius, gue bisa tunjukin sekarang kalo lu mau liat,”

“Ayok!”

Untuk melepaskan predikat jomblo yang gue emban selama ini, akhirnya gue mengajak Gerry ke supermarket yang berada di depan gang. Sebenarnya gue juga gak tahu apakah gue benar-benar suka atau enggak sama si cewek kasir ini, yang gue tahu cewek ini sudah berhasil bikin mata gue bertahan beberapa detik melihat ke arahnya, ketika pertama kali gue ke supermarket ini untuk membeli perlengkapan mandi.

Dengan tampang seperti gue sama Gerry punya, usaha seperti ini bukan kali pertamanya terjadi. Kita sadar, dengan usaha yang keras dan tekat yang kuat, suatu hari nanti alam akan membantu kita. Mungkin udah ribuan kali kita kayak gini, saling kasih tahu seseorang yang sedang kita suka, setelah itu diam dan berlalu, membiarkan rasa yang kita miliki itu usang. Ibarat pemain bola, gue sama Gerry hanya cocok di garis pertahanan, mentok-mentoknya gelandang bertahan, usaha gue sama Gerry baru sebatas memandang wanita yang kita sukai dari kejauhan, usaha yang paling keras yang bisa kita lakukan.

Tepat didepan supermarket tersebut, langkah Gerry terhenti, dengan ekspresi super serius seakan-akan selangkah lagi kita berdua akan memasuki zona perang, Gerry memberitahu gue rencanya. “Jadi gini, kita masuk kedalem, jangan membuat gerakan yang mencurigakan sedikitpun, salah langkah sedikit, mission failed.”

“O…okeey,” jawab gue terbatah.

“Kita masuk ke supermarket, lalu membeli tisu. Terus kita gak boleh berdekatan selama didalam, lu harus memberikan kode ke gue menggunakan bibir ke arah cewek tersebut!” sambung Gerry dengan nada setengah berbisik.

“Kena--.”

“Ssssstttt,” potong Gerry sambil menutup mulut gue menggunakan tangannya. “Inget zon, salah langkah sedikit saja, mission failed,” Lanjut Gerry masih dengan notasi berbisik.

Refleks tangan gue menepis tangan Gerry yang menutup mulut gue.

“Kok jadi ribet gini sih?” Tanya gue mulai paham dengan sikon Gerry yang gak stabil. “Kita cukup masuk kedalam, terus beli beberapa makanan, udah beres, intinya lu tau orangnya yang mana.” Tambah gue.

“Gitu ya?” ungkap Gerry yang masih berpikir.

Ini seperti kebegoan yang tertular, begonya gue nular ke Gerry. Dalam situasi ini, manusia bisa berbanding terbalik dengan sifat aslinya ternyata.

Lalu gue mulai melangkahkan kaki gue masuk kedalam supermarket itu, disambut dengan salam khas supermarket ini, “Selamat datang kaka,selamat belanja.” Gue memperhatikan satu-persatu dari kasir yang menyapa gue, sangat melegakan melihat cewek yang gue ceritain ke Gerry, berada disitu, kali ini alam yang menggiring gue kesini. Gue tersenyum membalas sapaan dari mereka dengan mata yang berpusat pada satu titik, titik yang membuat seseorang mencari-cari alasan untuk berlama-lama berada pada bagian ini.

Gue kembali meneruskan langkah gue ke arah rak makanan dan memasukan beberapa diantaranya kedalam keranjang, lalu gue meneruskan ke arah perlengkapan mandi-celana dalam-perlengkapan dapur-racun nyamuk-racun tikus-racun rumput, yang sebenarnya gue hanya membeli beberapa makanan saja. Tiba-tiba Gerry menghampiri gue.

“Oooo, I know.” Mulai Gerry mengangguk-ngangguk, mengerti suatu hal.

“Apaan?” Tanya gue sambil sok cool.

“Gue udah tahu yang lu taksir, selera yang bagus,” sambung Gerry lagi, masih mengangguk-ngangguk.

“Jangan sok tau lu,” Bales gue.

“Dia kan?” arah telunjuk Gerry tepat kearah cewek yang gue ceritain.

“Tangan lu bego, tangan lu!” Gue panik karena tangan Gerry terlalu bebas menunjuk kearah cewek kasir itu. “Oke, sekarang lu udah tau. Kita bayar ini terus pulang! Tapi ngomong-ngomong, lu bisa tau dari mane?” sambung gue yang udah agak malu.

“Paling gampang itu menebak orang yang sedang jatuh cinta. Lu terlalu lama aja di area ini yang lebih terbuka untuk ngeliat dia, dari pada area yang laen.” Jelas Gerry.

Sebuah logika yang diterima diakal gue.

Bermaksud membayar belanjaan, gue berjalan menuju kasir dengan nervous yang sudah menjadi-jadi dari awal gue masuk kesini.

“Ini aja kak?” Tanya cewek kasir ramah.

“Oh iya. Lu gimana ger?” Tanya gue mencoba menambahkan durasi didepan cewek ini.

“Udah itu aja,” jawab Gerry.

“Gak sama pulsanya sekalian?” tawar cewek kasir lagi dengan tersenyum menunjukan gingsulnya.

Gleek… gue nelen ludah, tiba-tiba ruangan ber AC itu terasa panas. “Boleh mba, 5000 aja ya,” jawab gue luluh setelah melihat sepasang gingsul itu.

“Oh iya, silahkan tulis nomer hpnya disini,” cewek ini menunjukkan note untuk menuliskan nomor handphone gue. “Jadi total belanjanya 9.784 Rupiah, uangnya 10.000 ya? Mau disumbangin aja kakak kembaliannya?”

“Boleh mba,” samber gue. “16 Rupiah disumbangin, jadi mba tinggal kembaliin 200 rupiah,” gue tersenyum, menganggap ini adalah keputusan yang smart.

“Baik, ada lagi kak?”

“Udah mba, cukup. Terimakasih.”

Setelah gue merasa durasi ini sudah cukup buat nempelin wajah cewek kasir ini dibenak gue, gue berlalu pergi, kembali kekosan gue bersama Gerry. Seperti yang pernah gue bilang sebelumnya, tahap seperti ini adalah usaha terkeras bagi kami untuk mendekati cewek, problem yang begitu kompleks, udah jelek terus cemen.

Setibanya dikosan, sempat hening beberapa menit sebelum akhirnya Gerry yang terlihat melamun, sambil tiduran menatap plafon yang terdapat bekas bocor, membuka mulutnya. “Itu cewek manis banget zon,”

“Iya,” jawab gue singkat.

“Sederhana, mukanya aduuhhh, bikin teduh,”

“Iya,” jawab gue lagi.

“Kita mabuk apa sih zon?”

“Iya,”

Mendengar jawaban tersebut, Gerry langsung nyamperin gue yang duduk menghadap tembok.

“Unta lu, ternyata ngelamun, cie yang jatuh cinta,” goda Gerry.

“Geli sapi, cia cie cia cie. Gue gak jatuh cinta!” jawab gue ketus.

“Bahaha, terus aja bohongin diri sendiri.”

Jauh didalam hati gue, gue benar-benar setuju dengan Gerry, bahwa gue jatuh cinta.

Gue jadi inget wanita yang memberikan uang ke gue buat beli makan sewaktu di penyebrangan jalan dan trotoar. Karena itu gue jadi mengerti, untuk jatuh cinta, terkadang kita memang gak perlu mencari latar belakang, gak perlu alasan-alasan yang tepat untuk bertindak, ketika kita sudah melihat, kita tahu apa yang dikehendaki hati, lalu memenuhi keinginannya.

“Kita gak bisa gini terus zon,” sita Gerry.

“Maksud lo?”

“Ya, kita gak bisa gini terus, lu harus bergerak, kenalan sama dia!” seru Gerry serius.

“Udah gila kali! mana berani gue, yang ada jantung gue copot!”

“Tenang aja, gue yang minta,” jelas Gerry dengan muka yakin.

“Serius lu berani ger?” Tanya gue antusias.

“Yoi, ntar malem kita kesana!”

Mendengar itu, mata gue jadi berkaca-kaca. Rasanya, gue lagi melihat Gerry menggunakan topeng Panji dan satu set pakaiannya, lalu siap untuk terbang menumpas kejahatan. Gue jadi pengin peluk Gerry sambil gue gigit-giti mukanya, gemes.

Malam harinya gue ngekorin Gerry dengan degub jantung yang gak normal, gue paksain diri gue buat nemenin Gerry ke supermarket. Kali pertama kejadian ini terjadi dengan level yang sedikit naik dari biasanya. Lalu, setelah tiba didepan supermarket tersebut, jantung gue rasanya pengin kececer kemana-mana.

“Ger ger, bentar,” gue menahan Gerry yang berjalan tanpa ragu. “kayaknya gue diluar aja deh, gak sanggup gue serius!” sambung gue.

“Temeninlah! Yang butuhkan elu,” jawab Gerry ketus.

“Gak berani serius, gue bisa kejang-kejang kalo masuk kedalam.”

“Ah, cupu. Ya udah, tunggu disini, liat abang mu ini ha.”

Gerry berjalan dengan langkah yang ringan, kayaknya emang udah matang untuk ini. Beda dengan gue yang berjalan mondar-mandir diluar, sesekali gue menarik nafas panjang buat memberikan ruang di dada gue yang mulai sesak. Gak ada yang lebih asik dari menunggu sesuatu yang gak menimbulkan rasa bosan.


Lalu Gerry keluar dengan wajah yang tersenyum, dia memperlambat langkah dan menghampiri gue sambil mengatakan, “Tugas gue udah selesai, sisanya tergantung sama lo.”

~Bersambung~

0 komentar:

Post a Comment