Wednesday, 26 October 2016

KCS #5 ~ Ratu Semut

“Maksudnya?” Tanya gue bingung.

“Jadi, itu cewek udah pulang, dia shift siang doang hari ini. Nah, besok siang tinggal lu minta deh nomernya!” Gerry menjelaskan dengan tenang.

“Eh bentar-bentar,” bantah gue merasa ada yang aneh. “Kok gue yang minta, kan lu sendiri tadi yang bilang kalo lu yang minta nomernya?”

“Untuk malam ini sih iya, tapi kalo untuk besok kayaknya mental gue udah balik lagi ke mode biasanya, hahahaha,” terang Gerry sambil melangkah balik kekosan.

“Eh, kampret!” teriak gue sambil menyusul Gerry. “Gue mana berani!”

“Elu biji jambu monyet, lu pikir gue tadi berani? Gue juga takut sapi, nih tangan gue masih gemeteran!” Gerry memperlihatkan kedua tangannya yang gemeteran dan muka yang baru ketara syoknya.

Melihat itu gue jadi berpikir, Gerry memang udah terlalu jauh melakukan ini untuk gue, dan besok gue juga harus nekat, demi mengubah perdikat jomblo yang gue emban dan demi melupakan sosok cewek misterius waktu di bus yang sepersekian detik terus muncul di pikiran gue. Hal lainnya lagi, karena gue memang udah jatuh cinta.

Malam yang sama absurdnya ketika gue di putusin X cewek gue Sari di hari ke tiga kita LDR-an, pikiran gue gak sejalan dengan mata yang pengin terpejam. Ketika Gerry sudah asik memulai hidupnya di dunia mimpi, pikiran gue justru seperti roda yang terus-terusan berputar. Gue jadi inget cewek-cewek yang udah gue kenal, gak satupun dari mereka yang murni kenalan langsung sama gue, pasti memiliki prantara yang memperkenalkan mereka ke gue, termasuk mantan-mantan gue. Cowok cemen kayak gue butuh banyak refrensi untuk menghadapi hal-hal semacam kenalan, seperti malam ini, gue mencari petunjuk di internet dengan key word cara kenalan dengan cewek yang baik agar direspon, yang muncul iklan racun tikus, gue sesak nafas dan kejang-kejang. Lalu, gue mecoba membuat tiga pilihan kata untuk memulai percakapan besok: 1) gue akan bilang hmm, boleh kenalan gak? Kalo gak, gue bunuh lu! 2) Atau gue akan masuk ke supermarket itu dengan menutup wajah gue seperti perampok bank, dan teriak kenalan woiii kenalan woii! 3) Atau gue cukup berdiri dihapannya terus berbicara lewat batin hai, kenalan yuk. Dari ketiga pilihan ini, nomer satu lebih masuk akal menurut gue, tapi problemnya adalah gue berani atau enggak.

Terkadang gue iri dengan cara semut berkomunikasi, ketika mereka saling mengadu kepalanya, mereka sudah tahu harus ngapain. Seperti barisan semut yang rapi, berjalan menuju cangkir kopi gue saat menulis bagian ini, kita semua tahu bahwa satu koloni semut bisa mencapai angka ratusan hingga ribuan, satu koloni ini dipimpin oleh satu semut yang berjalan paling depan. Selain itu semut juga mampu mengangkat beban kurang lebih dua puluh kali lipat dari badannya sendiri. Sangat berbeda dengan gue yang gak bisa memimpin isi hati dan gak sanggup mengangkat muka gue sendiri ketika berhadapan dengan wanita. Mencoba mengakhiri malam, gue menutup mata dengan penuh keraguan untuk membukanya kembali besok pagi.

Malam ini dewi fortuna ternyata prihatin terhadap kegelisahan gue, dia memberikan gue mimpi yang indah. Di dalam mimpi itu, gue berada di sebuah taman penuh bunga, dengan cahaya yang silau, gue meloncat-loncat kegirangan, entah karena apa. Lalu sesosok bidadari, putih bercahaya, amat sangat teramat cantik, dia memeluk gue dengan erat, membuat gue merasa dalam zona nyaman dan tenang. Perlahan wanita ini mendekatkan bibirnya ke bibir gue, dekat dan semakin dekat. Pelan – pelan nafasnya mulai masuk di hidung gue, dengan senang hati gue manarik nafas panjang agar semua nafas wanita ini masuk ketubuh gue. Sebanyak nafas wanita ini masuk ketubuh gue, saat itu juga jantung gue pengin copot. Baunya itu aneh banget, itu kayak  kaos kaki basah yang udah seminggu gak di cuci-cuci. Gue jadi parno, gue bener-bener pengin lepas dari keadaan ini sekarang, gue meronta-ronta, dan akhir gue terbangun dari tidur gue. Gue mulai membuka mata, dan betapa terkejutnya gue melihat mulut Gerry ternganga tepat di hadapan gue. “Aaaaaaaaaaaaaaa!” Teriak gue syok sambil melepaskan tangan Gerry yang memeluk gue.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” Teriak Gerry sambil menjauh dari gue. “Elu ngapain kampret?”

“Elu yang ngapain meluk gue?” Tanya balik gue masih syok.

“Astaga…kita ngapain semalem?” sambung Gerry sambil memeriksa celananya.

“Aduh, aduh-aduh, ancur masa depan gue Ger ancur. Itu bercap putih apaan dicelana lu?” Tanya gue panik menunjuk arah celana Gerry.

“Mana kampret? Ini?” Tanya Gerry sambil menunjuk arah yang gue makasud.

“Iyee, itu apaan?”  Tanya gue lagi mulai stress.

“Oh, ini bekas ingus gue tadi malem. Tenang, kayaknya kita aman, masih layak buat cewek.”

“Eh iya, ngomong-ngomong cewek, sekarang jam berapa?” Gue dan Gerry saling bertatapan, mengerti suatu hal, seketika keadaan bertambah gaduh dan panik, buru-buru gue menuju kamar mandi untuk menampankan diri, gue benar-benar sudah siap untuk melepaskan kutukan jomblo hari ini.

Layaknya manusia normal, gue mencoba menata wajah gue yang sudah lama rusak ini didepan kaca, ya walaupun hanya satu persen yang masih bisa diperbaikin. Lalu Gerry keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggang, dia mulai membuka mulutnya, “ntar gue nunggu diluar aja ya,” pintanya.

“Yah jangan dong, gue harus ngapain ntar disana?”  Tanya gue panik.

“Beli kondom. Ya kenalanlah,” jawab Gerry sambil memilih baju didalam lemari.

Gue hanya diam, meneruskan sisiran gue yang gak searah. “Lu ngapain sih kampret?” Tanya Gerry melihat tingkah gue.

“Gue bingung nih, ini arah rambut gue kemana ya?”

“Ya elah itu doing.” Gerry mendekati gue, dan mengacak-acak rambut gue. “Nah gini lebih abstrak, kayak hidup lo,” sambungnya.

“Oh, gitu ya?” Jawab gue terangguk-angguk.

“Mata agak sayu dong, badan tegap!”

“Gini?” Gue memperagakan instruksi Gerry.

“Nah pas, ntar kenalanan suara lu agak ngebass dikit biar kece”

“Siap.” Jawab gue yakin.

Mulailah langkah gue dan Gerry meninggalkan kosan, perasaan yakin dan cemas campur aduk dalam tubuh gue. Semua kemungkinan, baik dan buruknya mulai muncul dibenak gue sekarang, tapi sedikit serpihan keyakinan dalam hati gue membuat langkah gue terus maju. Lalu, tepat didepan supermarket tersebut Gerry menghentikan langkah dan membuka mulutnya. “Gue tunggu disini.”

“Yah yah yah, jangan dong!” Rengekkan gue membujuk Gerry.

Gerry memegang bahu gue, “Sob, dari sini kejantanan lu akan di pertaruhkan.”

Gue menganggukkan kepala dan memegang bahu Gerry. Gue mengintip kearah supermarket dan melihat cewek kasir yang gue tuju sedang asik meladenai pelanggan. Perlahan gue melangkahkan kaki kearah supermarket tersebut. Lalu, langkah gue kembali terhenti dan pandangan gue berbalik kearah Gerry. “Sekarang nih?” Tanya gue.

“Tahun depan, ya sekaranglah bego, huss huss huss!”

Mendengar itu, tanpa basa-basi gue masuk kedalam supermarket. Lalu, setibanya didalam supermarket, gue memutari rak demi rak sambil memikirkan kalimat seperti apa yang harus gue lontarkan. Gue memperhatikan sekeliling gue, pelanggan yang lain sedang sibuk memilih belanjaannya, bersamaan dengan itu juga belum terlihat pelanggan yang berada dihadapan kasir. Gue kembali melihat kearah Gerry yang sudah memberikan kode dengan bibirnya, isyarat kalau sekarang adalah saat yang tepat. Tanpa ragu, gue melangkah ringan menuju gasir. Dengan mata kantuk, rambut acak-acak, gue membuka mulut dengan nada sedikit ngebass. “Mmm, mbak, saya mau beli permen karet ini,” mulai gue sambil meletak satu kotak berwarna pink yang gue ambil dari rak depan kasir.

Cewek kasir ini tersenyum. “Kenapa senyum mbak?” Tanya gue heran.

“Ini Kondom mas,” jawab cewek kasir cengengesan.

Gleekkk… Gue menelan ludah. “Maksud saya yang ini mbak,” sambung gue dengan nada lirih memberikan permen karet.

“Ini aja mas? Pulsanya gak sekalian?” Tanya cewek kasir ini merayu dengan sepasang gingsulnya.

“Ini aja mbak,” jawab gue singkat. Melihat Kasir itu mulai menghitung belanjaan gue yang gak seberapa itu, jatung gue mulai berdegub kencang, gue merasa ada hawa panas yang keluar dari tubuh gue yang memerahkan muka gue.

“3.000 Rupiah mas belanjaanya.”

Gue tambah panik, perasaan ini seperti gue sedang berada disebuah kelas, tiba-tiba ditunjuk guru untuk mengerjakan soal matematika dipapan tulis. Mencoba memperlambat durasi, gue memberikan selembar Rp.50.000. Lalu, gue tambah panik lagi, ketika cewek kasir ini mulai menarik satu-persatu uang kembalian dari lacinya, dan ketika dia memberikan uang kembaliannya ke gue, spontan nada lirih keluar dari mulut gue, “Yang tadi malem udah tahu mbak?”

“Hah?” Cewek ini heran.

Tangan gue mulai gemetaran dan basah, “Sa…sa…saya mau eeeee, kenalan gitu sama mbak,” sambung gue terbatah-batah.

“…..” cewek ini diam melihat kearah belakang gue.

Merasa ada yang aneh, gue juga membalikkan pandangan gue kebelakang, “Mampus gue,” sahut hati gue berasa pengin pingsan melihat antrian yang panjang dibelakang gue. Mas-mas yang berada persis dibelakang gue ini bersiul, membuang pandangannya kesana-kemari seolah-olah tidak mendengar apa yang sedang gue bicarain, dan mas-mas yang berada dibelakangnya lagi berpura-pura merapikan belanjaannya. Lalu gue lebih kaget lagi melihat ibu-ibu yang berada dibarisan paling belakang, ibu-ibu ini gue kenal persis, masih lengket banget dibenak gue, iya bener ibu ini yang waktu itu marahin gue diterminal. Tapi kali ini dia mengangkat dua tangannya dan mengacungkan kedua ibu jarinya. Tiba-tiba, “Oh mas yang temennya tadi malem kesini ya?” Samber salah satu cewek pegawai supermarket ini.

“I…iya mba,” jawab gue masih terbatah-batah.

“Cowok sekarang tukang goda semua, udah mas jangan ganggu orang lagi kerja!” Sambungnya ketus.

Gue cuma ngebatu disana, gue kembali melihat kearah cewek kasir yang gue harapkan ini, namun dia terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Lalu perlahan tangan gue mengambil uang kembalian yang berada dihadapan gue, “Terimakasih mbak,” jawab gue tersenyum sambil meninggal zona yang gue sendiri udah bingung harus ngapain lagi.

Gue berjalan keluar dengan kepala tertunduk, gue bener-bener udah lemes, seolah-olah semua energi gue sudah habis disana. Gerry langsung menyambut gue dan buru-buru mengucapkan pertanyaannya. “Gimana-gimana?” gue cuma mengangkat bahu dan bingung harus menjawab apa.

“Tapi tadi udah keren banget, gue gak nyangka lu beneran ngajakin dia kenalan,” sambung Gerry yang mulai mengerti dengan situasi gue.

“Ternyata urusan hati itu rumit Ger,” ungkap gue.

“Maksud lu?”

“Iya rumit, tulus aja nggak cukup, karena orang lain gak bisa melihat itu,” sambung gue sambil melangkah menuju kosan.

“Hahaha, lu tuh kayak bunga raflesia, susah tumbuhnya, gampang matinya.”

“Hahaha, enggak gitu juga sih, gue cuma bingung aja gitu, setiap kali gue menggunakan hati, yang bakal sakit juga hati. Berarti kalo gue gak menggunakan hati atau pikiran, gue gak akan kenapa-napa dong.”

“Logika lo sempit, sebaik-baiknya manusia, dia yang disakiti bukan menyakiti. Dan lu cowok, gak ada harganya lagi kalo udah nyakitin cewek.”

Gue hanya terdiam, hati gue bener-bener menerima apa yang baru saja Gerry katakan. Seketika gue sadar satu hal, untuk urusan hati ini tidak perlu memikirkan apakah gue akan tersakiti atau enggak, gue cukup seperti satu koloni semut yang tulus menjaga ratunya, tanpa pamrih.

Sambil gue dan Gerry membicarakan ini dalam perjalanan pulang, handphone gue bordering.


“Ya Halo,” Suara wanita yang lembut di balik telepon.

~Bersambung~

1 comment: